Pemikiran Zhuangzi juga dapat dipertimbangkan sebagai perintis cara-cara keberbagaian nilai. Keberbagaian nilainya bahkan membuat ia meragukan dasar penalaran atas guna, yang menjadi sebab tindak tersedia dalam hidup manusia, karena ini mengandaikan bahwa hidup itu baik dan mati adalah buruk. Dalam bab 18 bagian keempat ''Kebahagiaan Besar'', dikisahkan betapa ia menyatakan rasa kasihan atas tergeletaknya sebuah tengkorak di tepi jalan. Zhuangzi meratapi kenyataan betapa tengkorak itu sekarang mati, tetapi tengkorak itu menjawab, ''Bagaimana kau tahu bahwa mati itu buruk?''
Terdapat dua kisah yang menjadi contoh bahwa tiada ukuran bagi keindahan, dan tentunya menyatakan tidak ada nilai yang berlaku sama bagi segalanya, apalagi untuk selamanya, yang terdapat bab 2, berjudul ''Tentang Menata Segala Sesuatu'':
Kata orang Puteri Qiang dan Puteri Li sangat cantik, tetapi jika ikan-ikan melihatnya akan menyelam ke dasar arus; jika burung-burung melihatnya akan terbang pergi, dan jika rusa melihatnya juga akan mendadak lari. Dari empat keadaan ini, siapa yang tahu cara menetapkan ukuran keindahan di dunia?
Decoder filsafat keberbagaian itu oleh semacam kepekaan atas keutuhan dan kesatuan dunia ini dalam ba-gian yang disebut "Kebahagiaan Ikan":
Zhuangzi dan Huizi sedang berjalan-jalan di bendungan Air Terjun Hao ketika Zhuangzi berkata, "Li-hatlah ikan-ikan kecil yang melompat dan melesat sesukanya! Itulah yang sangat membahagiakan ikan!"
Huizi berkata, "Dikau bukan ikan, bagaimana dikau tahu apa yang disukai ikan?"
Ia selalu merasa bahwa seluruh Negeri Atap Langit adalah rumahnya, yang tentu saja disebabkan oleh perjalanannya luas dan tidak kunjung berhenti. Ia bisa menulis tentang pasir Gurun Gobi maupun keelokan wilayah selatan Negeri Atap Langit. Ia tahu seperti apa rasanya tidur di padang pasir dengan angin menyakitkan di sekitarnya, dan karena itu dapat dihargainya bunga-bunga dan keindahan bagian selatan negeri.
Banyak orang mengagumi betapa begitu beragam gagasan dapat ditulisnya, termasuk entah gagasan apa yang setelah dibacakannya seusai makan malam bersama sahabat-sahabatnya, karena segera dibakar dan dihanyut-kannya ke sungai sampai hilang ditelan arus. Kemungkinan karena semasa hidupnya pun terdapat pokok perbincangan yang terlalu berbahaya untuk diucapkan, apalagi tertulis di atas kertas sebagai puisi. Maka puisi pun dibakar jika keselamatan jiwa seseorang menjadi taruhannya.
Ia bisa menulis puisi tentang rambutnya sendiri yang mulai memutih, kerinduannya akan lebih banyak anggur, seperti gagasan umum pada masanya, maupun yang tak terpikirkan seperti tentang pekerjaan tukang pencair logam, tentang seorang kawan Jepun, maupun seorang pejabat dari Jambhudvipa, yakni kepala pasukan di Huchow yang disebut Chia-yeh. Ia juga disebut menulis puisi tentang dunia lain yang nilai penghargaannya berbeda, seperti tentang penelitian dalam ilmu pengetahuan, keadaan kimiawi tubuh seusianya, maupun pemikiran betapa dirinya adalah bagian dari adat lama Tao Yuan-ming yang hidup empat abad sebelumnya.
Ketika Li Bai baru setahun dilahirkan, pemikiran Kaum Dao sedang menyalip pengaruh pemikiran Kong Fuze, sehingga menumbuhkan kesenian dan kesusastraan. Namun Li Bai mempelajari ajaran Buddha dengan sama mendalamnya dengan ajaran Kaum Dao, menghabiskan waktunya bertahun-tahun dalam kesunyian pegunungan untuk belajar dari guru ke guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar